Rabu, 02 Maret 2011

Alkaloid

GOLONGAN ALKALOID
Golongan alkaloid adalah golongan senyawa yang mempunyai struktur heterosiklik dan mengandung atom N di dalam intinya (pembawa sifat basa/alkalis). Sifat umum yang dimiliki oleh golongan senyawa ini adalah: basa, rasa pahit, umumnya berasal dari tumbuhan dan berkhasiat secara farmakologis.
Struktur golongan alkaloid amat beragam, dari yang sederhana sampai yang rumit. Koniina dan nikotin adalah dua contoh yang sederhana. Koniina diambil dari tanaman keluarga :hemlok beracun (Conius maculata). Nikotin adalah salah satu alkaloid dalam tembakau, dalam takaran rendah, seperti yang diperoleh perokok, merangsang sistem syaraf secara tak sengaja, sedangkan takaran tinggi dapat meracuni. Nikotina adalah obat yang menyebabkan kebiasaan, yaitu penyebab ketergantungan faali. Obat yang menyebabkan keracunan adalah yang mengakibatkan perubahan faali apabila si pecandu tidak menerimanya dalam suatu jangka waktu.
Beberapa alkaloid penting memiliki sistem cincin indol. Asam lisergat disebut LSD (lysergic acid diethylamide), yaitu obat halusinasi yang sering disalahgunakan. Hanya 1 μg LSD (takaran yang tak dapat dilihat) sudah cukup menimbulkan halusinasi. Contoh alkaloid yang memiliki cincin indol adalah reserpina, yaitu alkaloid indol dari tanaman penawar bisa, mengurangi tekanan darah tinggi, tetapi jika tak dikendalikan dapat menyebabkan serangan jantung atau pembuluh darah pecah.
Contoh senyawa yang mengandung alkaloid lainnya adalah opium. Opium adalah getah mentah dari polong biji tumbuhan opium. Jika getah ini dimurnikan, diperoleh dua alkaloid penting, morfina dan kodeina yang dapat dipisahkan dalam bentuk murni. Morfina adalah obat anti nyeri yang paling mujarab, banyak digunakan untuk mengatasi kesulitan manusia. Kodeina adalah analgetika yang manjur dan penekan batuk. Senyawa ini sejak lama dipakai sebagai obat batuk, tetapi sekarang telah diganti oleh dekstrometorfan, alkaloid sintetik yang sama ampuhnya. Morfina dan kodeina merupakan obat penyebab kecanduan.

Identifikasi

Alat dan Bahan

Peralatan yang diperlukan dalan identifikasi adalah: rak tabung reaksi, tabung reaksi, lampu spiritus, pipet tetes, penjepit tabung, mikroskop, objek glas dan cover glass.
Bahan yang digunakan: FeCl3 10%, NaOH 20%, HCl 0.5N, H2SO4 10%, NH4OH encer, pereaksi meyer, pereaksi Erdman, NaOH padat, Vanilin, HCl pekat, Pereaksi Roux, pereaksi Luff, KMnO4 encer, KClO3 pekat, HCl 25%, pereaksi Froudh, HNO3 pekat, AgNO3, larutan Fehling, metanol. Pereaksi Zwikker, pereaksi Ehrlich (DAB HCl), pereaksi Nessler.

Identifikasi Zat
Papaverin
a. Uji Organoleptis: bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Uji Pendahuluan:
• Reaksi Bouchardat
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Baouchardat
• Reaksi Meyer
Zat + HCl 0.5N + pereaksi meyer
C. Uji Identitas:
• Reaksi Erdman
Zat + pereaksi erdman  ungu
• Reaksi Froudh
Zat + pereaksi Froudh  ungu merah
• Zat + HNO3 pk  coklat merah
• Zat + 1 ml H2SO4 10%  panaskan  violet
• Zat + pereksi Zwikker  lihat di bawah mikroskop

Coffein
a. Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Uji Pendahuluan:
• Reaksi Bauchardat
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Bauchardat
• Reaksi Meyer
Zat + HCl 0.5N + pereaksi meyer
C. Uji Identitas:
• Reaksi Murexide
Zat  cawan porselin + KClO3(s) + 1 tetes HCl 25%  panaskan  kering  jingga + NH4OH  ungu
• Reaksi Zwikker
Zat + pereaksi Zwikker  batang-batang panjang

Teofilin
a. Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Uji Pendahuluan:
• Reaksi Bauchardat
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Bauchardat
• Reaksi Meyer
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Meyer
C. Uji Identitas:
• Reaksi Murexide (+)
Kuning merah coklat  ungu
• Zat + air  panaskan + NH4OH + larutan AgNO3  seperti selai larut dalam HNO3 (putih)
• Reaksi Roux
Zat + pereaksi Roux  hijau stabil
• Reaksi Zwikker
Zat + pereaksi Zwikker  batang-batang balok panjang

Aminofilin
Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Uji Pendahuluan:
• Reaksi Bouchardat
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Bauchardat
• Reaksi Meyer
Zat + HCl 0.5N + pereaksi meyer
C. Uji Identitas
 Reaksi Murexid
Merah + NH4OH  ungu

INH
Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Uji Pendahuluan:
• Reaksi Bouchardat
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Bauchardat
• Reaksi Meyer
Zat + HCl 0.5N + pereaksi meyer
C. Uji Identitas
 Reaksi Murexid
Merah + NH4OH  ungu

Nikotinamid
Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Uji Pendahuluan:
• Reaksi Bouchardat
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Bauchardat
• Reaksi Meyer
Zat + HCl 0.5N + pereaksi meyer

Parasetamol
Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Uji Pendahuluan:
• Reaksi Bouchardat
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Bauchardat
• Reaksi Meyer
Zat + HCl 0.5N + pereaksi meyer

Antalgin
Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Uji Pendahuluan:
• Reaksi Bouchardat
Zat + HCl 0.5N + pereaksi Bauchardat
• Reaksi Meyer
Zat + HCl 0.5N + pereaksi meyer

Materi Dasar Praktikum Kimia Klinik

A. PENGAMBILAN DARAH VENA
Darah vena diperoleh dengan jalan pungsi vena. Jarum yang digunakan untuk menembus vena itu hendaknya cukup besar, sedangkan ujungnya harus runcing , tajam dan lurus. Dianjurkan untuk memakai jarum dan semprit yang dispossible; semprit semacam itu biasanya dibuat dari semacam plastik. Baik semprit maupun jarum hendaknya dibuang setelah dipakai, janganlah disterilkan lagi guna pemakaian berulang. Semprit yang banyak dipakai untuk pemeriksaan hematologi ialah yang mempunyai volume 2 dan 5 ml..
Dianjurkan pula menggunakan “ jarum –jarum steril “ ( Vacutainer, Venoject ) yakni jarum yang diperlengkapi dengan tabung gelas hampa udara; pada waktu melakukan pungsi vena, darah terisap ke dalam tabung itu. Alat ini dapat digunakan 1kali saja. Memakai jarum – tabung ini ada keuntungan tambahan karena darah yang diperoleh dalam keadaan tidak kecemaran.

a Pengambilan darah vena
Tujuan : Untuk mendapatkan darah vena dengan jalan punksi
Prinsip : Saat melakukan penusukan pada pembuluh darah vena, darah akan masuk pada ujung semprit, dilanjutkan dengan menarik torak/ holder sampai volume darah yang dikehendaki.
Alat :
 Jarum dan semprit
Jarum harus cukup besar, ujungnya runcing, tajam dan lurus dan hendaknya dibuang setelah dipakai (dispossible)
 Tourniquet
Bila tidak ada tourniquet dapat digunakan pembalut dari tensimeter atau selang karet yang lunak (lebar ± 5 cm)
 Botol penampung darah
Kering dan tertutup, untuk keperluan mikrobiologi harus steril. Volumenya tidak terlalu besar untuk jumlah darah yang akan ditampung dan diberi label.
 Kapas bersih beralkohol 70 % sebagai desinfektan
 Bantalan
Sebagai pengganal atau penopang tangan (jika doperlukan)
Lokalisasi : Vena yang cukup besar dan letaknya superficial
Orang dewasa : vena difosa cubiti
Anak-anak dan bayi :
 Vena jugularis Externa (lebar)
 Vena Femoralis (paha)
 Vena Sinus sagitalis Suferior (kepala)
Prosedur kerja :
1. Alat-alat yang diperlukan disiapkan
2. Keadaan pasien diperiksa, diiusahakan pasien tenang begitu pula petugas (phlebotomis)
3. Ditentukan vena yang akan ditusuk, pada orang gemuk atau untuk vena yang tidak terlihat dibantu dengan palpasi
4. Daerah vena yang akan ditusuk diperhatikan dengan seksama terhadap adanya peradangan, dermatitis atau bekas luka, karena mempengaruhi hasil pemeriksaan.
5. Tempat penusukan didesinfeksi dengan Alkohol 70 % dan dibiarkan kering
6. Tourniquet dipasang pada lengan atas (bagian proximal lengan) 6 – 7 cm dari lipatan tangan
7. Tegakkan kulit diatas vena dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak bergerak
8. Dengan lubang jarum menghadap keatas, kulit ditusuk dengan sudut 45o – 60o sampai ujung jarum masuk lumen vena yang ditandai dengan berkurangnya tekanan dan masuknya darah keujung semprit
9. Holder ditarik perlahan-lahan sampai volume darah yang diinginkan
10. Torniquet dilepas
11. Kapas diletakkan diatas jarum dan ditekan sedikit dengan jari kiri, lalu jarum ditarik
12. Pasien diinstruksikan untuk menekan kapas selama 1 – 2 menit
13. Jarum ditutup lalu dilepaskan dari sempritnya, darah dimasukkan kedalam botol penampung melalui dinding secara perlahan. Bila menggunakan anticoagulant, segera perlahan-lahan dicampur

Hal – hal yang perlu diperhatikan :
1. Pasien yang takut harus ditenangkan dengan memberi penjelasan mengenai apa yang akan dilakukan, maksud beserta tujuannya
2. Vena yang kecil terlihat sebagai garis-garis biru biasanya sukar digunakan
3. Untuk vena yang tidak dapat ditentukan karena letaknya yang dalam, usaha coba-coba dilarang untuk dilakukan
4. Pembendungan yang terlalu lama jangan dilakukan karena dapat mengakibatkan hemokonsentrasi setempat
5. Hematoma, yaitu keluarnya darah dibawah kulit dalam jaringan pada kulit disekitar tusukkan akan terlihat berwarna biru, biasanya akan terasa nyeri, perintahkan pasien untuk mengompresnya dengan air hangat beberapa menit atau beberapa hari sampai sakitnya hilang

b Pengambilan darah vena dengan menggunakan venaject/vacutainer
Tujuan : Untuk mendapatkan darah vena dengan jalan punksi
Prinsip : Saat melakukan penusukan pada pembuluh darah vena, darah akan masuk pada tabung hampa udara sampai volume darah yang dikehendaki.
Alat :
1. Jarum khusus ukuran 20 – 22 gauge ; steril
2. Holder/ Adapter
3. tabung vakum (2 – 15ml) dengan tutup berwarna beda :
a. Ada yang steril dan tidak steril
b. Ada yang tanpa zat tambahan dan dengan zat tambahan
 Antikoagulant : EDTA, Heparin
 Anti glikolitik : NaF, Asam Iodo Asetat, dll
4. Tourniquet
Bila tidak ada tourniquet dapat digunakan pembalut dari tensimeter atau selang karet yang lunak (lebar ± 5 cm)
5. Botol penampung darah
Kering dan tertutup, untuk keperluan mikrobiologi harus steril. Volumenya tidak terlalu besar untuk jumlah darah yang akan ditampung dan diberi label.
6. Kapas bersih beralkohol 70 % sebagai desinfektan
7. Bantalan
Sebagai pengganal atau penopang tangan (jika dierlukan)

Lokalisasi : vena yang cukup besar dan letaknya superficial
Orang dewasa : vena difosa cubiti
Anak-anak dan bayi :
 Vena jugularis Externa (lebar)
 Vena Femoralis (paha)
 Vena Sinus sagitalis Suferior (kepala)

Prosedur kerja :
1. Alat-alat yang diperlukan disiapkan
2. Keadaan pasien diperiksa. diusahakan pasien tenang begitu pula petugas (phlebotomis)
3. Pasien diposisikan dalam keadaan duduk atau berbaring, pasien dilarang makan/ minum
4. Ditentukan vena yang akan ditusuk, pada orang gemuk atau untuk vena yang tidak terlihat dibantu dengan palpasi
5. Daerah vena yang akan ditusuk diperhatikan dengan seksama terhadap adanya peradangan, dermatitis atau bekas luka, karena mempengaruhi hasil pemeriksaan.
6. Tempat penusukan didesinfeksi dengan Alkohol 70 % dan dibiarkan kering
7. Tourniquet dipasang pada lengan atas (bagian proximal lengan) 6 – 7 cm dari lipatan tangan
8. Kulit diatas vena ditegakkan dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak bergerak
9. Dengan lubang jarum menghadap keatas, kulit ditusuk dengan sudut 15o – 30o sampai ujung jarum masuk lumen vena yang ditandai dengan berkurangnya tekanan dan dorong tabung vakum kedalam holder sehingga darah masuk kedalam tabung sampai kevakuman habis
10. Jangan bergerak selama jarum masih berada dalam vena
11. Torniquet dilepas dan pasien diperintahkan membuka kepalan lengannya
12. Lepas tabung dari jarum dan dorong tabung vakum lain jika volume darah yang diinginkan belum cukup
13. Kapas diletakkan diatas jarum dan ditekan sedikit dengan jari kiri, lalu jarum ditarik
14. Pasien diinstruksikan untuk menekan kapas selama 1 – 2 menit
15. Jarum ditutup lalu dilepaskan dari holder,
16. Tabung vakum diberi label sesuai identitas pasien

Hal – hal yang perlu diperhatikan :
1. Lepas tutup jarum secara perlahan, jangan sampai ujung jarum menyentuh tutupnya, sebab jarum dapat tumpul
2. Pasang tabung vakum pada holder secara kuat, dengan cara ibu jari kanan mendorong tabung sedangkan jari telunjuk dan jari tengah (kanan) tertumpu pada kedua sisi holder, ibu jari tangan kiri memegang holder dengan sedikit menekan agar holder tidak bergerak
3. Pasien yang takut harus ditenangkan dengan memberi penjelasan mengenai apa yang akan dilakukan, maksud beserta tujuannya
4. Vena yang kecil terlihat sebagai garis-garis biru biasanya sukar digunakan
5. Untuk vena yang tidak dapat ditentukan karena letaknya yang dalam, usaha coba-coba dilarang untuk dilakukan
6. Pembendungan yang terlalu lama jangan dilakukan karena dapat mengakibatkan hemokonsentrasi setempat
7. Hematume, yaitu keluarnya darah dibawah kulit dalam jaringan pada kulit disekitar tusukkan akan terlihat berwarna biru, biasanya akan terasa nyeri, perintahkan pasien untuk mengompresnya dengan air hangat beberapa menit atau beberapa hari sampai sakitnya hilang

B. PENGGUNAAN MIKRO PIPET ATAU KLINIPET
Pipet adalah alat yang digunakan untuk memindahkan sejumlah larutan dalam volume tertentu dari suatu wadah ke wadah yang lain. Mikro pipet adalah pipet yang proses pengambilan dan pengeluarannya dilakukan secara otomatis tanpa menggunakan alat bantu isap. Mikro pipet biasanya digunakan untuk memindahkan larutan dengan volume 1 ml atau 1000 ul. Mikro pipet ini banyak digunakan dalam laboratorium klinik.

Cara kerja :
a. Pengambilan sampel
- Tip dimasasukkan pada ujung pipet bagian bawah
- Tip dibilas 1 kali dengan larutan sampel
- Bagian atas tombol pipet ditekan sampai tanda berhenti pertama
- Tip pipet dimasukkan ke dalam larutan sampel  2 – 3 mm
- Secara perlahan – lahan dilepaskan kembali tombol pipet bagian atas kebagian semula
- Pipet diangkat perlahan – lahan dan dilap bagian luar dengan tisue.
b. Pengeluaran sampel
- Tip pipet diletakkan pada bagian bawah dinding wadah
- Bagian atas tombol ditekan sampai tanda berhenti pertama kemudian dilanjutkan sampai Tanda berhenti kedua/akhir
- Dihapuskan kembali tip pipet pada dinding wadah
- Secara perlahan – lahan tombol pipet bagian atas dilepas ke posisi semula
- Pipet diangkat dari dalam wadah
- Tip pipet dilepaskan dari ujung pipet dengan menekan tombol pengeluaran tip.

c. Kalibrasi
Untuk mengukur volume pipet, perlu dilakukan kalibrasi secara berkala. Kalibrasi dianjurkan dengan menggunakan aquabidest. Kalibrasi dilakukan untuk mengetahui nilai ketepatan dan penyimpangan.

d. Perawatan
• Pengecekan terhadap ketepatan posisi corong tangkai pipet, stel kembali bila diperlukan
• Secara perlahan bagian penghisap digosok dengan silicon oil terutama setelah dibersihkan dan apabila gerakannya tidak sempurna
• Volume pipet diperiksa dengan cara kalibrasi
• Bagian piston diperiksa dan bagian lain dari jamur dan dari larutan organik yang masuk,apabila terkontaminasi cuci bagian dalam dari pipet dengan larutan deterjen atau larutan isopropil alkohol, kemudian dibersihkan dengan larutan aquabidest, dikeringkan maksimal pada suhu 120 C, apabila diperlukan lakukan sterilisasi pada suhu 121 C selama 20 menit.

C. SPEKTROFOTOMETER
Spektrofotometer digunakan untuk memperoleh deretan jarak gelombang yang kontinue, filter pada spektrofotometer adalah prisma atau kisi yang dapat menghasilkan spektrum. Pada spektrofotometri, baik dalam kawasan ultraungu dan cahaya yang terlihat maupun dalam kawasan infra merah, dimanfaatkan gejala absorbsi sinar cahaya oleh molekul atau atom. Pada spektrofotometer yang penting untuk diperhatikan ialah perbedaan antara spektrofotometer sinar tunggal dan spektrofotometer sinar ganda. Spektrofotometer sinar tunggal biasanya digunakan untuk kawasan ultra ungudan cahaya yang terlihat. Spektrofotometer sinar ganda dapat dipergunakan baik dalam kawasan ultra ungu dan cahaya yang terlihat maupun kawasan infra merah.

Prinsip : sinar yang masuk ( nyata, uv,infra merah ) diubah menjadi sinar monokromatis oleh monokromator dengan sistem lensa, sinar menjadi sejaja. Oleh diapragma intensitas sinar yang menyinari contoh atau sampel diatur. Cahaya yang diserap oleh sampel diubah menadi sinar listrik oleh fotosel dan besaran absorben akan terbaca pada galvanometer ( berupa meter atau digit )
Prosedur kerja :
- Alat dihubungkan dengan sumber listrikdan didiamkan dulu selama 15 menit agar stabil
- Panjang gelombang yang dikehendaki diatur dan dipilih filter yang sesuai dengan panjang gelombang ( misal 546 nm )
- Kuvet berisi blanko dimasukkan
- Kemudian absorben dizerokan dengan menekan tombol zero
- Kemudian kuvet dikeluarkan dan diganti dengan standar dan kemudian sampel
- Absorben standar dan sampel dicatat
- Kemudian kuvet dibersihkan dan spektrofotometer dibersihkan
- Setelah selesai spektrofotometer di off kan.

Hal yang harus diperhatikan :
- spektropotometer jangan diletakkan di tempat dengan resiko bergetar dan goyang.
- Ruangan tempat spektrofotometer minimal mempunyai AC umtuk menjaga kelembapan alat.
- Membersihkan spektrofotometer jangan menggunakan bahan yang bersifat korosif
- Spektrofotometer harus dihindarkan dari bahan – bahan yang bersifat korosif.
- Untuk menjaga kestabilan arus listrik maka hendaknya menggunakan stapol.


D. BROSUR KERJA / REAGEN KIT
Brosur kerja atau reagen kit sangat berguna bagi kita analis sebagai pedoman atau protap dalam bekerja. Karena di dalam brosur kerja atau reagen kit tersebut meliputi; no katalog, metode yang digunakan & prinsip reaksi, komposisi reagen, persiapan reagen dan stabilitas reagen, bahan pemeriksaan yang digunakan, prosedur kerja, perhitungan dan lain – lain. Bila kita membeli misalnya 1 kotak reagen glukosa maka akan kita temukan dalam kit glukosa tersebut adalah brosur kit glukosa dan didalamnya tercantum seperti hal yang diatas tadi.
No katalog : no katalog ini berfungsi untuk mempermudah kita mencari reagen yang mana yang digunakan dalam metode tersebut misalnya pada pemeriksaan trigliserida no katalog 10720 Merk HUMAN maka di dalam box reagen itu terdapat 14 x 10,7 ml reagen bufffer, dan untuk mempersiapkan reagen kerjanya maka 250 ul reagen enzim dimasukkan ke dalam reagen buffer dan dicampur.
Metode : cara pengerjaan atau dasar pemeriksaan dalam kit ini misalnya metode kolorimetric enzimatik dan juga mencakup prinsip reaksi.
Komposisi reagen : adalah kandungan – kandungan reagen yang terdapat dalam kit tersebut misalnya pada kit kolesterol merk HUMAN standar 3 ml berisi cholesterol 200 mg/latau 5.17 mmol/l.
Persiapan reagen : sebagian kit ada yang perlu reagennya dicampur terlebih dahulu baru dipakai ada juga yang bisa langsung dipakai. Yang langsung bisa dipakai contohnya adalah reagen cholesterol Merk HUMAN, sedangkan yang disiapkanterlebih dahulu misalnya pemeriksaan trigliserida no katalog 10720 Merk HUMAN.
Stabilitas reagen : stabilitas reagen bermanfaat bagi kita dalam penyimpanan disana tercantum misalnya reagen stabil sampai mencapai batas kadaluarsa sebelum dibuka segelnya jika disimpan pada suhu 2 – 8 C. tetapi reagen yang sudah terbuka stabil selama 2 minggu pada suhu 15 – 25 C, hindari adanya kontaminasi ( pemeriksaan kolesterol Merk HUMAN )
Bahan / sampel : adalah sampel yang akan digunakan digunakan dalam metode tersebut misalnya serum atau plasma, atau plasma heparin atau plasma EDTA tergantung metode dan Merk.
Prosedur kerja : prosedur kerja berisi langkah – lang kah dalam bekerja meliputi resep reagen yang digunakan, panjang gelombang yang digunakan , waktu inkubasi dan lain – lain.
Perhitungan : adalah cara kita mendapatkan hasil berapa kadarnya dengan perhitungan dan rumus, tetapi sekarang dengan spektrofotometer yang canggih kita cuma memasukan faktor keluar hasilnya dalam mg/dl tidak perlu kita kalkulasikan lagi.
Interpretasi klinis : ini meliputi nilai normal yang dianjurkan, nilai inipun tergantung dari merk dan metode yang digunakan.
Lain – lain : misalnya pada pemeriksaan kolesterol merk HUMAN ada catatan sbb; test tidak dianjurkan bila ada dengan hemoglobin dengan kadar 200 mg/dl atau oleh bilirubin dengan kadar sampai 5 mg/dl; reagen berisi sodium azide sebagai preservatif ( 0,05 %) jangan diaduk dan kontak kulit dan membran mukosa dihindari.

DAFTAR PUSTAKA
Penuntun laboratorium klinik, Gandasoebrata. R, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta 1995
Dasar – dasar Ilmu Instrumen, O.G Brink dkk.
Instrumen Laboratorium Kesehatan, Pusdiknakes, 1989

Spesial Thanks For : Hj. Nurul Qomariyah, S.Pd, M.Pd, Terima Kasih atas segala ilmu yang diberikan selama SMAK dan D3 Analis Kesehatan. You are the best Dosen.

PeniLaian HAsil PEmeriksaan Urinia

Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses pembentukan urine. Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal.

Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan dipelbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain-lain.

Faktor-Faktor Yang Turut Mempengaruhi Susunan Urin

Untuk mendapatkan hasil analisa urin yang baik perlu diperhatikan beberapa faktor antara lain persiapan penderita dan cara pengambilan contoh urin.

Beberapa hal perlu diperhatikan dalam persiapan penderita untuk analisa urin misalnya pada pemeriksaan glukosa urin sebaiknya penderita jangan makan zat reduktor seperti vitamin C, karena zat tersebut dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara reduksi dan hasil negatif palsu dengan cara enzimatik.

Pada pemeriksaan urobilin, urobilinogen dan bilirubin sebaiknya tidak diberikan obat yang memberi warna pada urin, seperti vitamin B2 (riboflavin), pyridium dan lain lain.

Pada tes kehamilan dianjurkan agar mengurangi minum supaya urin menjadi lebih pekat.

Susunan urin tidak banyak berbeda dari hari ke hari, tetapi pada pihak lain mungkin banyak berbeda dari waktu ke waktu sepanjang hari, karena itu penting untuk mengambil contoh urin menurut tujuan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan urin seperti pemeriksaan protein, glukosa dan sedimen dapat dipergunakan urin - sewaktu, ialah urin yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan dengan khusus, kadang kadang bila unsur sedimen tidak ditemukan karena urin- sewaktu terlalu encer, maka dianjurkan memakai urin pagi.

Urin pagi ialah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari, urin ini baik untuk pemeriksaan berat jenis, protein sedimen dan tes kehamilan.

Pada penderita yang sedang haid atau "leucorrhoe" untuk mencegah kontaminasi dianjurkan pengambilan contoh urin dengan cara clean voided specimen yaitu dengan melakukan kateterisasi, punksi suprapubik atau pengambilan urin midstream dimana urin yang pertama keluar tidak ditampung, tapi urin yang keluar kemudian ditampung dan yang terakhir tidak turut ditampung.

Pemeriksaan Makroskopik, Mikroskopik Dan Kimia Urin

Dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. Yang dimaksud dengan pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urin yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urin lengkap adalah pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit.

Pemeriksaan Makroskopik

Yang diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urin. Pengukuran volume urin berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif atau semi kuantitatif suatu zat dalam urin, dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan badan. Pengukuran volume urin yang dikerjakan bersama dengan berat jenis urin bermanfaat untuk menentukan gangguan faal ginjal.

Volume urin
Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urin seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urin dalam 24 jam antara 800--1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri.

Poliuri ini mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti pemasukan cairan yang berlebihan, nervositas, minuman yang mempunyai efek diuretika. Selain itu poliuri dapat pula disebabkan oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus, diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran cairan dari edema. Bila volume urin selama 24 jam 300--750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri.

Keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah -muntah, deman edema, nefritis menahun. Anuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal. Jumlah urin siang 12 jam dalam keadaan normal 2 sampai 4 kali lebih banyak dari urin malam 12 jam. Bila perbandingan tersebut terbalik disebut nokturia, seperti didapat pada diabetes mellitus.

Warna urin
Pemeriksaan terhadap warna urin mempunyai makna karena kadang-kadang dapat menunjukkan kelainan klinik. Warna urin dinyatakan dengan tidak berwarna, kuning muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu dan sebagainya. Warna urin dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang dimakan maupun makanan. Pada umumnya warna ditentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin. Bila didapatkan perubahan warna mungkin disebabkan oleh zat warna yang normal ada dalam jumlah besar, seperti urobilin menyebabkan warna coklat.

Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya zat warna abnormal, seperti hemoglobin yang menyebabkan warna merah dan bilirubin yang menyebabkan warna coklat. Warna urin yang dapat disebabkan oleh jenis makanan atau obat yang diberikan kepada orang sakit seperti obat dirivat fenol yang memberikan warna coklat kehitaman pada urin.

Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih. Kekeruhan ringan disebut nubecula yang terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urin yang telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak.

Berat jenis urin
Pemeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens 'pita'. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003 -- 1,030. Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun.

Bau urin
Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang abnormal. Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih umpamanya pada karsinoma saluran kemih.

pH urin
Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urin normal berkisar antar 4,5 -- 8,0. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat basa. Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urin dipertahankan asam, sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urin sebaiknya dipertahankan basa.

Pemeriksaan Mikroskopik

Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen urin. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit. Urin yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB.

Jumlah unsur sedimen bermakna dilaporkan secara semi kuantitatif, yaitu jumlah rata-rata per LPK untuk silinder dan per LPB untuk eritrosit dan leukosit. Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan + (ada), ++ (banyak) dan +++ (banyak sekali). Lazimnya unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan tak organik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang tak organik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan seperti urat amorf dan kristal.

Eritrosit atau leukosit
Eritrosit atau leukosit di dalam sedimen urin mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kernih. Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan leukosit hanya terdapat 0 - 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia.

Adanya eritrosit dalam urin disebut hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada penyakit dengan diatesa hemoragik. Terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut piuria. Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor albus.

Silinder
Silinder adalah endapan protein yang terbentuk di dalam tubulus ginjal, mempunyai matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadang-kadang dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan epitel. Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain osmolalitas, volume, pH dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal.

Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat ringannya penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal bisa didapatkan sedikit eritrosit, leukosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti silinder leukosit, silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius. Pada pielonefritis dapat dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat ditemukan silinder eritrosit. Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin.

Kristal
Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di dalam saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal. Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat-obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.

Epitel
Merupakan unsur sedimen organik yang dalam keadaan normal didapatkan dalam sedimen urin. Dalam keadaan patologik jumlah epitel ini dapat meningkat, seperti pada infeksi, radang dan batu dalam saluran kemih. Pada sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat dilihat dengan memakai zat warna Sudan III/IV atau diperiksa dengan menggunakan mikroskop polarisasi.

Pemeriksaan Kimia Urin

Di samping cara konvensional, pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. Reagens pita (strip) dari berbagai pabrik telah banyak beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat dipakai untuk pemeriksaan pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimum, aktivitas reagens harus dipertahankan, penggunaan haruslah mengikuti petunjuk dengan tepat; baik mengenai cara penyimpanan, pemakaian reagnes pita dan bahan pemeriksaan.

Urin dikumpulkan dalam penampung yang bersih dan pemeriksaan baiknya segera dilakukan. Bila pemeriksaan harus ditunda selama lebih dari satu jam, sebaiknya urin tersebut disimpan dulu dalam lemari es, dan bila akan dilakukan pemeriksaan, suhu urin disesuaikan dulu dengan suhu kamar.

Agar didapatkan hasil yang optimal pada tes nitrit, hendaknya dipakai urin pagi atau urin yang telah berada dalam buli-buli minimal selama 4 jam. Untuk pemeriksaan bilirubin, urobilinogen dipergunakan urin segar karena zat-zat ini bersifat labil, pada suhu kamar bila kena cahaya. Bila urin dibiarkan pada suhu kamar, bakteri akan berkembang biak yang menyebabkan pH menjadi alkali dan menyebabkan hasil positif palsu untuk protein. Pertumbuhan bakteri karena kontaminasi dapat memberikan basil positif palsu untuk pemeriksaan darah samar dalam urin karena terbentuknya peroksidase dari bakteri.

Reagens pita untuk pemeriksaan protein lebih peka terhadap albumin dibandingkan protein lain seperti globulin, hemoglobin, protein Bence Jones dan mukoprotein. Oleh karena itu hasil pemeriksaan proteinuri yang negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan terdapatnya protein tersebut didalam urin. Urin yang terlalu lindi, misalnya urin yang mengandung amonium kuartener dan urin yang terkontaminasi oleh kuman, dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara ini. Proteinuria dapat terjadi karena kelainan prerenal, renal dan post-renal. Kelainan pre-renal disebabkan karena penyakit sistemik seperti anemia hemolitik yang disertai hemoglobinuria, mieloma, makroglobulinemia dan dapat timbul karena gangguan perfusi glomerulus seperti pada hipertensi dan payah jantung. Proteinuria karena kelainan ginjal dapat disebabkan karena kelainan glomerulus atau tubuli ginjal seperti pada penyakit glomerulunofritis akut atau kronik, sindroma nefrotik, pielonefritis akut atau kronik, nekrosis tubuler akut dan lain-lain.

Pemeriksaan glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl.

Juga cara ini lebih spesifik untuk glukosa, karena gula lain seperti galaktosa, laktosa, fruktosa dan pentosa tidak bereaksi. Dengan cara enzimatik mungkin didapatkan hasil negatip palsu pada urin yang mengandung kadar vitamin C melebihi 75 mg/dl atau benda keton melebihi 40 mg/dl.

Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi.

Benda- benda keton dalam urin terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar. Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat lebllh dari 5--10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin didapat bila urin mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa dan pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan.

Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negatif. Pada keadaan puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada diabetes mellitus, kelainan metabolisme lemak didalam urin didapatkan benda keton dalam jumlah yang tinggi. Hal ini terjadi sebelum kadar benda keton dalam serum meningkat.

Pemeriksaan bilirubin dalam urin berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfo salisilat.

Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan basil positif dan keadaan ini menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium.

Pemeriksaan urobilinogen dengan reagens pita perlu urin segar. Dalam keadaan normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin.

Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh.

Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin. Tes ini lebih peka terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan pula pemeriksaan mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator seperti hipochlorid atau peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran kemih atau akibat pertumbuhan kuman yang terkontaminasi.

Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Adanya bakteriura dapat ditentukan dengan tes nitrit. Dalam keadaan normal tidak terdapat nitrit dalam urin. Tes akan berhasil positif bila terdapat lebih dari 105 mikroorganisme per ml urin. Perlu diperhatikan bahwa urin yang diperiksa hendaklah urin yang telah berada dalam buli-buli minimal 4 jam, sehingga telah terjadi perubahan nitrat menjadi nitrit oleh bakteri. Urin yang terkumpul dalam buli-buli kurang dari 4 jam akan memberikan basil positif pada 40% kasus.

Hasil positif akan mencapai 80% kasus bila urin terkumpul dalam buli-buli lebih dari 4 jam. Hasil yang negatif belum dapat menyingkirkan adanya bakteriurea, karena basil negatif mungkin disebabkan infeksi saluran kemih oleh kuman yang tidak mengandung reduktase, sehingga kuman tidak dapat merubah nitrat menjadi nitrit. Bila urin yang akan diperiksa berada dalam buli-buli kurang dari 4 jam atau tidak terdapat nitrat dalam urin, basil tes akan negatif.

Kepekaan tes ini berkurang dengan peningkatan berat jenis urin. Hasil negatif palsu terjadi bila urin mengandung vitamin C melebihi 25 mg/dl dan konsentrasi ion nitrat dalam urin kurang dari 0,03 mg/dl.

dr. R. Wirawan, dr. S. Immanuel, dr. R. Dharma
Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta

Tilik Kesehatan Melalui Urin

Air seni alias air kencing atau urin adalah cairan sisa yang dilepaskan oleh ginjal, yang kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui proses urinasi (berkemih). Ekskresi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring ginjal dan untuk menjaga kestabilan cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Komposisi urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial (jaringan penyokong). Tahu kondisi organ Materi yang terkandung di dalam urin bisa diketahui melalui urinalisis atau pemeriksaan urin. "Lewat urinalisis kita dapat mengetahui fakta tentang ginjal dan saluran urin. Selain itu, juga dapat diketahui mengenai faal berbagai organ tubuh, seperti hati, saluran empedu, pankreas, cortex adrenal, dan lain sebagainya," ungkap Dr. Yulia Anggraini dari Klinik Bina Insani, Jakarta Selatan. Namun, ditambahkannya, memilih contoh (sampel) urin harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan. Ketika melakukan urinalisis memakai urin kumpulan sepanjang 24 jam pada seseorang, ternyata susunan urin itu tidak banyak berbeda dari susunan urin 24 jam berikutnya. Namun, bila mengadakan pemeriksaan dengan sampel-sampel urin pada saat yang tidak menentu, seperti di waktu siang atau malam, dapat dilihat perbedaan yang jauh dari sampel-sampel itu. Pemeriksaan urin lengkap di laboratorium akan melihat warna urin, kepekatannya, pH, berat jenis, sel darah putih, sel darah merah, sedimen, sel epitelial, bakteri, kristal, glukosa, protein, keton, bilirubin, darah samar, nitrit, dan urobilinogen. Infeksi saluran kemih Diabetes, seperti diungkapkan Dr. Lenni Damayanti dari bagian Medical Check Up RS Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi lewat sampel-sampel urin. Urin seorang penderita diabetes (diabetesi) mengandung gula, yang tidak bakal ditemukan dalam urin orang yang sehat. Tes urin bisa juga dipakai untuk melihat apakah seseorang mengalami gangguan hati atau tidak. Bisa dilihat dari bilirubin dan urobilinogennya negatif atau tidak. Lewat pemeriksaan urin pula, dapat diketahui apakah seseorang mengalami infeksi saluran kemih. Seperti dilakukan Widyawati (45). Ia memeriksakan urin anaknya, Cahaya (10), di sebuah laboratorium di Jakarta Selatan. Kata Widyawati, anaknya mengalami panas tinggi dan mengeluh sakit saat buang air kecil. Tiga minggu lalu Cahaya keluar dari rumah sakit karena menderita demam berdarah dan gejala tifus. "Waktu di rumah sakit, air seninya berwarna keruh seperti susu cair dalam kaleng. Sekarang, saya amati, buang air kecilnya keruh dan ada butiran-butiran putih kecil," ujar ibu dua anak ini. Atas usul adiknya yang kebetulan seorang dokter, Widya mengambil sampel urin putrinya dan membawanya ke laboratorium. Hasilnya, dalam urin tersebut ada kandungan protein (albumin) dan sejumlah bakteri. Selanjutnya, sambil membawa hasil pemeriksaan, Widya membawa Cahaya ke dokter spesialis anak. Diagnosis dokter, Cahaya mengalami infeksi saluran kemih. Dokter pun memberinya antibiotik dan obat penurun panas. "Kira-kira empat hari kemudian, Cahaya tidak lagi mengeluh sakit ketika pipis. Warna urinnya pun kembali normal. Untuk memastikannya, saya kembali mengambil sampel air seni Cahaya untuk dibawa ke laboratorium. Tak lagi ada kandungan protein dalam air seninya," katanya lagi. Tanda dehidrasi Urin juga menjadi penunjuk dehidrasi (tubuh kekurangan cairan). Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin bening seperti air. Sebaliknya, orang yang mengalami dehidrasi, urinnya berwarna kuning pekat atau cokelat karena tubuh kehilangan garam dan mineral dalam jumlah yang banyak. Untuk mengembalikan urin Anda ke warna semula, cobalah minum larutan garam elektrolit, misalnya oralit. Bila oralit tak tersedia, cobalah larutan gula-garam. Cara membuatnya mudah saja, yakni larutkan satu sendok teh gula dan sejumput garam ke dalam 200 cc air matang. Bila dehidrasi tak membaik, perlu pemberian cairan infus. Nah, berwarna apakah urin Anda? Pengambilan Sampel Air Seni Menurut Wachyuni dari bagian Mikrobiologi RSVP Fatmawati, Jakarta Selatan, aria beberapa cara pengambilan sampel urin, yakni: 1. Urin sewaktu Untuk berbagai pemeriksaan digunakan urin sewaktu, yakni urin dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan secara khusus. Pemeriksaan ini baik untuk pemeriksaan rutin tanpa keluhan khusus. 2. Urin pagi Maksudnya, urin yang pertama-tama dikeluarkan di pagi hari setelah bangun tidur. Urin ini lebih pekat daripada urin yang dikeluarkan di siang hari. Pemeriksaan urin pagi baik untuk sedimen, berat jenis, protein, juga tes kehamilan. Sebaliknya, urin pagi tidak baik untuk pemeriksaan penyaring karena adanya glukosuria. 3. Urin postprandial Maksudnya, urin yang pertama kali dikeluarkan 1,5 - 3 jam sehabis makan. Sampel ini berguna untuk pemeriksaan glukosuria. 4. Urin 24 jam Sampel ini digunakan untuk mengetahui keandalan angka analisis. Untuk mengumpulkan urin 24 jam diperlukan botol besar, bervolume 1,5 liter atau lebih yang ditutup dengan baik. Botol harus bersih dan memerlukan zat pengawet. Cara mengumpulkan urin ini dikenal juga sebagai timed specimen, yakni urin siang 12 jam, dan urin malam 12 jam. Urin siang 12 jam dikumpulkan dari pukul 07.00 sampai 19.00. Sementara urin malam 12 jam, dikumpulkan dari pukul 19.00 sampai pukul 7.00 keesokan harinya. Adakalanya urin 24 jam ditampung terpisah-pisah dalam beberapa botol dengan maksud tertentu. Contohnya, pada penderita diabetes melitus untuk melihat banyaknya glukosa dari santapan satu hingga santapan berikutnya. 5. Urin 3 gelas dan 2 gelas pada laki-laki Urin jenis ini digunakan untuk pemeriksaan urologis. Selain itu, juga untuk mendapatkan gambaran tentang letak radang atau lesi lain, yang mengakibatkan adanya nanah atau darah dalam air kencing pria. Tes HIV Lewat Urin Tes urin menjadi cara sederhana dan efektif untuk mengidentifikasi infeksi HIV, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Demikian yang dilaporkan para peneliti dalam jurnal Acquired Immune Deficiency Syndromes, beberapa waktu lalu. "Kami yakin, tes urin berguna untuk mengidentifikasi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak mau dites darah," kata Dr. Joseph B. Margolick dari The Johns Hopkins University, Baltimore, Amerika Serikat, seperti dikutip Reuters Health. Margolick dan koleganya memberikan hipotesis bahwa metode skrining yang nyaman dan tidak melukai dapat mendeteksi ODHA yang tidak mau mengikuti prosedur tes darah. Metode tersebut diterapkan di daerah yang berisiko tinggi. Untuk menyelidiki manfaat tes urin, selama periode waktu tiga tahun, peneliti melakukan skrining terhadap lebih dari 1.700 orang. Penelitian dilakukan 1 sampai 2 sesi di gereja, dapur restoran, balai pertemuan masyarakat, serta tempat berlangsungnya tes. Secara keseluruhan diketahui 210 orang (12 persen) positif HIV. Di antara mereka yang diketahui positif ini 169 orang (80 persen) sebelumnya pernah mengikuti tes, tetapi hasilnya negatif. Secara keseluruhan 87 persen dari mereka yang hasil tesnya positif mau kembali untuk mengambil hasilnya. Kebanyakan dari mereka mau dirujuk ke pelayanan kesehatan. Para peneliti menekankan, orang yang dites di pusat pelayanan kesehatan masyarakat cenderung kembali untuk mengambil hasil tesnya. Menurut Margolick, pendekatan tersebut dapat meningkatkan pengawasan di daerah yang termasuk tinggi infeksi HIV. Diharapkan mereka bisa membantu orang untuk mendapatkan akses pengobatan HIV, sehingga akan meningkatkan kesehatan penderitanya secara bermakna. Membaca Arti Warna Urin Dijelaskan Dr. Lenni Damayanti, umumnya warna urin ditentukan oleh besarnya diuresis (peningkatan pembentukan kencing). Makin besar diuresis, makin muda warna urin. Warna normal urin berkisar antara kuning muda hingga kuning tua. Warna itu disebabkan oleh beberapa zat, terutama urochrom dan urobilin. jika contoh urin bukan dalam gradasi kuning, bisa disebut abnormal, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut. Meski demikian, warna abnormal juga belum tentu karena penyakit berat. Bisa saja disebabkan hasil metabolisme abnormal yang berasal dari suatu jenis makanan atau obat-obatan. Apa yang berkaitan dengan warna urin? 1. Kuning Zat warna normal dalam jumlah besar: urobilin, urochrom. Zat warna abnormal: bilirubin. Pengaruh obat-obat: santonin, riboflavin, atau pengaruh permen. Indikasi penyakit: tidak ada (normal). 2. Hijau Zat warna normal dalam jumlah besar: indikan (indoxilsulfat). Pengaruh obat-obat: methyleneblue, evan's blue. Indikasi penyakit: obstruksi (penyumbatan usus kecil). 3. Merah Zat warna normal dalam jumlah besar: uroerythrin. Zat warna abnormal: hemoglobin, porfirin, porfobilin. Pengaruh obat-obat: santonin, amidopyrin, congored, atau juga zat warna makanan. Indikasi penyakit: glomerulonevitis nefitit akut (penyakit ginjal), kanker kandung kencing. 4. Cokelat Zat warna normal dalam jumlah besar: urobilin. Zat warna abnormal: bilirubin, hematin, porfobilin. Indikasi penyakit: hepatitis. 5. Cokelat tua atau hitam Zat warna normal dalam jumlah besar: indikan. Zat warna abnormal: darah tua, alkapton, melamin. Pengaruh obat-obat: derivat fenol, argyrol. Indikasi penyakit: sindroma nefrotika (penyakit ginjal). 6. Serupa susu Zat warna normal dalam jumlah besar: fosfat, urat. Zat warna abnormal: pus, getah prostat, chylus, zat-zat lemak, bakteri-bakteri, protein yang membeku. Indikasi penyakit: infeksi saluran kencing, kebocoran kelenjar limfa.